Branding Marketing

Memahami Karakter Generasi Z, Sebelum Menjadikan Mereka Sebagai Target Market

target market

Maraknya kemunculan bisnis online salah satunya dipicu oleh kebiasaan sekelompok masyarakat yang sangat akrab dengan internet. Generasi Z, yang lahir pada pertengahan tahun 90-an hingga pertengahan tahun 2000-an ini merupakan potential buyer yang tumbuh di era digital, sehingga internet sudah menjadi kebutuhan pokok mereka layaknya makan dan minum.

Pada survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) tahun 2016 lalu, diketahui bahwa  generasi Z punya andil dalam pengambilan keputusan keluarga. Survei CMV dilakukan terhadap lebih dari 17.000 responden usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

Usia Pengambil keputusan berlibur Pengambil keputusan membeli elektronik
10 – 14 tahun 47% 33%
15 – 19 tahun 67% 62%

Survei tersebut juga menemukan jenis aktivitas yang sering dilakukan para generasi Z.

Usia Olahraga Menonton TV Mendengarkan musik Membaca buku Menjelajah internet
10-14 thn 48% 38% 17% 11%
15-19 thn 44% 32% 25% 17%

generasi Z
Menurut pakar informasi teknologi (IT), Nukman Luthfie, generasi Z mudah mengadopsi tren yang ada di dunia lantaran akses internet yang sangat mudah. Terlebih lagi setelah sosial media seperti Facebook, Twitter, dan Instagram kian digandrungi remaja.

Nukman juga membagi eksistensi remaja di dunia maya menjadi dua kategori:

  • Creator, orang yang membuat konten tertentu di blog, situs web, atau pun akun YouTube/ Instagram.
  • Conversationalist adalah orang yang lebih senang menggunakan Facebook, Path, dan Twitter untuk bercakap-cakap.

Agar dapat menarik perhatian generasi Z sebagai target market Anda, kenali terlebih dahulu karakter mereka lewat postingan-postingan di media sosial.  

  1. Lebih Menyukai Media Sosial daripada Mesin Pencari

Generasi Z cenderung lebih memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram, atau Twitter untuk mendapatkan barang atau produk atau jasa yang mereka inginkan. Berbeda dengan generasi X pendahulunya yang lebih menyukai mesin pencari seperti Google atau Yahoo.  

  1. Lebih Bisa Dipengaruhi Influencer daripada Iklan

Dalam studinya tentang AdReaction, Kantar Millward Brown mengungkapkan perilaku serta respon generasi Z terhadap iklan. Ditemukan fakta bahwa generasi digital ini merespon secara negatif iklan-iklan pop-up (42%) dan iklan yang tidak bisa diskip (36%).

Generasi Z justru lebih mempercayai social media influencers sebagai referensi berbelanja. Bila sebuah produk sudah direview atau dipakai oleh artis YouTube maupun selebgram yang mereka sukai, maka tinggal selangkah lagi sebelum akhirnya mereka mengeluarkan uang untuk berbelanja.    

  1. Multitasking & Mudah Bosan

Sering melihat anak muda yang membaca artikel di smartphone sambil scrolling, sekaligus  mendengarkan lagu? Itulah perilaku multitasking mereka yang lebih menyukai hal-hal bersifat instan.

Menarik perhatian generasi Z di era digital merupakan sebuah tantangan. Bagaimana tidak, Anda hanya punya waktu 8 detik untuk merebut perhatian mereka dengan konten yang tidak membosankan. Karena itu pendekatan yang tepat adalah dengan menampilkan konten visual dan ringkas.

  1. Generasi Z Terbuka Pada Hal-hal Baru

Generasi Z sangat peduli terhadap sesuatu yang sifatnya populer atau sedang tren ketimbang hal-hal yang unik atau cenderung anti mainstream. Keunikan akan kalah dengan produk-produk fashion atau teknologi terbaru yang sedang ‘in’.

Dengan fakta-fakta di atas, Anda sudah dapat memetakan jenis bisnis/ produk serta jasa yang pas untuk target market dari segmentasi generasi Z. Jangan lupa sajikan juga konsep branding serta marketing yang langsung mengena pada sasaran.     

BACA JUGA: Customer Retention Bisa Anda Dapatkan dengan 3 Cara Ini 

 

 

 

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply